Sendirian?

Kemarin saya memenuhi undangan untuk bertemu teman-teman baru di Jakarta.

Pertemuan itu sudah saya tunggu-tunggu sejak pertama kali saya tiba di Jakarta.

Bahagianya saya ketika diminta datang ke Masjid Arief Rahman Hakim (Masjid Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia).

Kampus UI yang sejak SMA begitu saya idam-idamkan.

Memang kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, karena Allah pasti memberi yang terbaik.

Saya paham betul maksud itu, tapi kemarin sore saat saya ada disana.  Hati saya benar-benar bahagia. Entahlah.

Ada semacam rasa puas saat sesuatu yang dahulu kala pernah sangat kita inginkan.  Sudah kita lupakan.  Tiba-tiba kita bisa ada disana.

Hmmm..

Dan banyak pertanyaan yang entah ke berapa puluh kali berulang

“Mb di Jakarta sama siapa?”

“Sendiri”

“Sendirian? ”

“Nggak ada saudara? ”

“Nanti Kita jadi saudara ya? ” aku jawab sambil tersenyum.

Hidup di sebuah kota besar tanpa saudara memang akan berat kalau tidak mengandalkan Allah.

Banyak hal yang tidak (belum)  saya tahu.

Meski sampai saat ini, pertolongan Allah selalu datang lewat tangan-tangan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Seperti kedua orang tuaku yang menitipkan saya sama Allah, saya benar-benar bergantung padaMu.

Ternyata manusia benar-benar tidak berdaya. Bukan hanya keluarga,  diri kita sendiripun tidak bisa kita jaga.

Sore hari saat hujan deras-masih dengan rindu pulang ke rumah.

Titip mereka ya Allah.

 

Masjid ARH Selepas sholat asar.

Maret 2017

 

 

 

 

 

 

Iklan

Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Siklus sebab akibat itu sudah ditentukan, tidak ada yang bisa merubahnya kecuali satu, yaitu kebaikan.

Kebaikan bisa merubah takdir. Nanti kau akan mengerti!

Betapa banyak kebaikan yang kau lakukan tanpa sengaja telah merubah siklus sebab akibat milikmu.

Apalagi kebaikan-kebaikan yang memang dilakukan dengan sengaja.

Seseorang yang memahami siklus sebab akibat itu seseorang yang tahu, bahwa kebaikan bisa merubah siklusnya.

Maka dia akan selalu mengisi kehidupannya dengan perbuatan baik, mungkin semua yang dilakukannya terlihat sia-sia, mungkin apa yang dilakukannya terlihat tidak ada harganya bagi orang lain, tapi dia tetap mengisinya sebaik mungkin.

Dikutip dari buku Tere Liye yang berjudul Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Aku percaya, tidak pernah ada kebaikan kecil atau besar. Sebab semua itu akan membawa kebaikan pada hati kita. Setidaknya kita merasa tenang dan damai ketika mencoba menjadi baik.