Belajar dari Matahari

Baiknya kita belajar dari matahari tentang kedisiplinan yang tinggi.

Ia tidak pernah sedetikpun terlambat terbit.

Ia juga tidak pernah pergi telalu cepat.

Ia tidak pernah melenceng dari garis edarnya.

Menyinari bumi dengan jarak sangat tepat. Kalau saja matahari terlalu jauh beberapa derajat saja, maka bumi ini tidak akan bertahan karena kedinginan.

Betapa Allah sangat mencintai umatNYa. Ia menciptakan matahari dengan tingkat kepatuhan yang luar biasa.

Dari matahari kita juga harus belajar tentang memiliki kapasitas yang besar. Panas yang dihasilkan matahari sampai saat ini masih terus mampu untuk menyinari seluruh dunia.

Baiknya manusia terus belajar untuk meningkatkan kapasitasnya, kemudian ia bisa menerangi  dunia.

Mari memperbaiki diri dan menjadi matahari-matahari kecil

Ahad, 16 April 2017

Jakarta Pusat

Iklan

Yang tidak kamu tahu

Tidak semua hal di dunia ini bisa kita ketahui.  Perasaan orang lain misalnya.

Sekalipun ada orang-orang yang mengatakan “Aku tahu perasaanmu”.

Entah itu hanya kalimat penghibur atau ia pura-pura tahu.  Sekalipun ia pernah merasakan kejadian yang paling mirip sekalipun.  Kenyataannya saat kita terluka, tidak ada orang yang benar-benar tahu tentang seberapa dalam luka yang kita rasakan.

Saat kita merindukan sesuatu, tidak pernah ada orang yang benar-benar tahu betapa merindunya kita.

Pun saat kita jatuh cinta.  Tidak ada yang benar-benar tahu.  Sejatuh apa hati kita mencinta.

Tidak ada yang bisa merasakan perasaan orang lain dengan presisi yang tepat.

Orang-orang yang terlihat sangat tegarpun, mungkin sedang menyembunyikan air matanya.

Jangan-jangan orang-orang yang pura-pura cuek,  adalah orang yang selalu menyebutkan nama kita dalam doanya.

Menyebutkan nama kita minimal 5 kali dalam sehari.  Menyebutkan nama kita sebelum pagi.

Dan masih banyak lagi yang tidak kamu tahu…

Sendirian?

Kemarin saya memenuhi undangan untuk bertemu teman-teman baru di Jakarta.

Pertemuan itu sudah saya tunggu-tunggu sejak pertama kali saya tiba di Jakarta.

Bahagianya saya ketika diminta datang ke Masjid Arief Rahman Hakim (Masjid Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia).

Kampus UI yang sejak SMA begitu saya idam-idamkan.

Memang kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, karena Allah pasti memberi yang terbaik.

Saya paham betul maksud itu, tapi kemarin sore saat saya ada disana.  Hati saya benar-benar bahagia. Entahlah.

Ada semacam rasa puas saat sesuatu yang dahulu kala pernah sangat kita inginkan.  Sudah kita lupakan.  Tiba-tiba kita bisa ada disana.

Hmmm..

Dan banyak pertanyaan yang entah ke berapa puluh kali berulang

“Mb di Jakarta sama siapa?”

“Sendiri”

“Sendirian? ”

“Nggak ada saudara? ”

“Nanti Kita jadi saudara ya? ” aku jawab sambil tersenyum.

Hidup di sebuah kota besar tanpa saudara memang akan berat kalau tidak mengandalkan Allah.

Banyak hal yang tidak (belum)  saya tahu.

Meski sampai saat ini, pertolongan Allah selalu datang lewat tangan-tangan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Seperti kedua orang tuaku yang menitipkan saya sama Allah, saya benar-benar bergantung padaMu.

Ternyata manusia benar-benar tidak berdaya. Bukan hanya keluarga,  diri kita sendiripun tidak bisa kita jaga.

Sore hari saat hujan deras-masih dengan rindu pulang ke rumah.

Titip mereka ya Allah.

 

Masjid ARH Selepas sholat asar.

Maret 2017