Rhein

Sebuah mimpi besar harus dimulai dari langkah kecil

Mohon maaf saya tidak tahu ini kata-kata siapa.

Seharusnya di dunia ini hanya ada satu kata takut yang kita kenal, Takut pada Tuhan. Tidak boleh ada kata takut selain itu!

Seharusnya di dunia ini tidak boleh ada kata takut kepada manusia lain, dan kepada impian yang besar dan baik.

Seperti manusia lain, saya memiliki beberapa ketakutan. Beberapa benar-benar saya hindari. Hingga tahun ini, saya menyisakan satu ketakutan saja. Butuh proses panjang untuk melalui dan menghadapinya.

Hal paling penting dari keberanian menghadapi ketakutan adalah jujur pada diri sendiri. Jujur untuk menjadi diri sendiri benar-benar tidak mudah. Apa yang kita takutkan, haruslah dihadapi dengan penuh tanggung jawab.

Beberapa kenangan berharga di 2015 tidak bisa saya bawa ke 2016, untuk itu saya ingin menuliskannya disini.

Bergabung di Pusat Studi Jerman memahamkan saya bahwa mungkin selama ini orang-orang terlalu sempit mendefinisikan kata ‘saudara’. Bahwa ternyata ada banyak orang yang bisa kita jadikan saudara, meskipun persamaan kita hanya sama-sama makhluk Tuhan.

Disini, ada sebuah ruangan dimana bendera Indonesia berdiri sejajar dengan bendera Jerman. Entahlah, saya begitu bangga melihat bendera Indonesia berkibar sejajar dengan bendera negara lain, terutama Jerman.

Pada moment tutup tahun kali ini, sungguh kesempatan yang luar biasa bertemu dengan pendiri-pendiri pusman. Begini beberapa kata yang saya ingat :

“Harapannya kita menjadi lebih bersahabat dengan Jerman, kita bisa belajar banyak dari mereka. Bahasa merupakan hal yang penting, namun kultur yang harus lebih banyak kita pelajari. Kultur bukan hanya sekedar sesuatu yang tradisional seperti tarian, tapi juga budaya modern. Ke depan, semoga Indonesia bisa menyamai Jerman dalam hal pendidikan. Bahwa semua orang seharusnya memiliki kesempatan untuk mengakses pendidikan secara gratis. Masalah ia akan sukses atau tidak, itu tergantung kerja keras masing-masing. Tapi kesempatan setiap orang mengakses pendidikan haruslah sama.”

Kita percaya itu semua. Sebenarnya ada banyak momen bersama teman-teman Asisten Program (Asprog) 2015 yang tidak bisa saya tulisakan semuanya disini.

Setahun bersama kalian,

Rega, Trevi, Fahmi, Tian, Taru.

“Kita bisa tersenyum bahkan dengan lima ribu rupiah” Taru

“Jerman itu deket” Tian

“Kalau kita berniat baik, Allah akan bantu” Fahmi

“Don’t ever lose hope” Trevi

“Semangat” Rega

Semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk bertemu kembali di pinggir Sungai Rhein di Jerman. Dengan keadaan yang lebih baik dari tahun ini. Dengan senyum yang masih tetap hangat.

Kita sudah sepakat, bahwa jarak bukan tentang jauhnya kilometer yang harus ditempuh, melainkan jauhnya hati yang tidak saling mendoakan.

Bahwa definisi perpisahan bukan lagi terpisah jarak, melainkan dengan perbedaan cara bertemu.

Akhir Desember 2015.

Beberapa orang biasa dengan mimpi-mimpi yang besar.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s