Menjadi Senja hlm 40

“Kau pikir hanya perempuan yang bisa menjadi teduh?Ada banyak laki-laki jauh lebih teduh dari perempuan. Berkata lebih halus, sopan dan menggunakan nada rendah. Malah kebanyakan perempuan berteriak karena setitik noda di wajah. Dimana sisi keteduhannya?” Suaramu meninggi.

Aku terpaksa berdiam sebentar. Aku tidak akan rela membiarkanmu memenangkan perdebatan ini.

“Meski senja lahir dari matahari yang terik. Kau mungkin tidak pernah tahu, bahwa perempuan harus mengalami tiga fase dalam hidupnya.”

“Tiga fase?” Kau meninggikan suaramu.

“Iya. Pertama adalah fajar. Fajar sama seperti gadis kecil. Ia yang biasa-biasa saja telah mencuri perhatian semua orang. Fajar adalah senja kecil, tempat dimulainya sebuah amanah besar yaitu perempuan. Kedua adalah matahari.” Kau masih menyimak dengan serius.

“Jika seorang perempuan dewasa, ia tak lagi bisa melakukan hal-hal yang disukainya di depan banyak orang. Ia bahkan tak bisa lari-lari lalu gelendotan dengan teman laki-lakinya. Ia paham ada sesuatu yang dilarang sekarang. Fase matahari adalah yang paling sulit menurutku. Ada banyak hal yang kau inginkan, tapi tak diizinkan.”

“Itu dilakukan untuk melindungi perempuan, bukan membatasi.” Tiba-tiba kau menyahut.

“Jadi, sekarang kau setuju bahwa senja adalah perempuan?”

Aku merasa menang.

“Bagaimana dengan senja?

“Apa setiap hari berakhir dengan senja yang cantik?”

“Ku rasa tidak,” kau menjawab dengan cepat.

“Itulah yang meyakinkanku bahwa senja adalah perempuan. Setiap perempuan sama seperti matahari. Sementara tak semua matahari berakhir dengan senja yang cantik. Begitu juga tak semua matahari menjadi terik.”

“Aku tidak mengerti maksudmu?” Kamu berkata pelan.

“Senja adalah fase dimana perempuan menjadi seorang istri. Ia begitu teduh dan cantik. Yang banyak terjadi saat ini, aku lebih banyak melihat matahari teduh. Bukankah itu belum saatnya? Tuhan menciptakan matahari terik yang kemudian menjadi senja yang cantik? Itu persis bahwa perempuan harus menjaga dirinya hingga tiba waktunya. Waktu dimana ia menjadi teduh bersama suaminya. Aku tersenyum.

Apa sekarang kamu sepakat?

Kamu diam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s