Elang Putih

elang p

Pic dari : www.kutilang.or.id

Nama? Nama? Nama?

Mengambil keputusan dalam sebuah himpunan orang-orang yang terus diam-tidaklah selalu mudah seperti yang terlihat. Ada banyak yang akan menjadi pertanyaan.

Hidup bagaikan kumpulan sebuah pilihan.

Mau terus hidup berarti mau terus memilih.

Hari ini sebuah nama harus kita sepakati

Untuk membuat himpunan manusia ini lebih mudah untuk disebut menjadi satu atau beberapa kalimat.

Ini akan membuat semuanya menjadi lebih menyatu, atau justru sebaliknya.

Ada begitu banyak nama yang bisa kita sematkan pada himpunan ini.

Tak terbesit sebelumnya, karena sudut padangku jarang disetujui oleh laki-laki.

Himpunan yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Seharusnya kami cukup adil untuk tidak menyematkan nama yang mengarah pada pandangan bahwa ini laki-laki atau ini perempuan.

Hingga dua kata yang tak sengaja terlintas menjadi sebuah jawaban.

Elang Putih

Elang adalah lambang dari sebuah kekuatan. Ini sama sekali tak memandang pada laki-laki. Pada kenyataannya banyak perempuan lebih kuat dibandingkan dengan laki-laki.

Putih adalah warna sebuah kesucian.

Bukan lambang perempuan. Saat ini banyak laki-laki justru menjaga kesucian lebih baik dari perempuan.

Dua kata ini jika digabung maka menjadi seekor makhkuk yang luar biasa.

Luar biasa Hebat!

Aku hampir menangis mengetahui kisahnya.

Pernah dengar Elang yang berumur 70 Tahun?

Untuk mencapai umur itu ia harus mengambil pilihan sulit pada umur 40.

Ia diam saja lalu mati, atau memilih jalan yang begitu menyakitkan agar terus bertahan hidup.

Ketika kukunya mulai menua, begitu paruh dan bulunya. Ia harus terbang tinggi dan membuat sarang di pinggir tebing. Ia menyediri dan berpuasa 150 hari. Ia berusaha keras terus mematuk hingga paruhnya yang tua terlepas. Ia terus berdiam hingga paruhnya tumbuh baru. Setelah itu, ia harus berjuang untuk mencabut kukunya dengan paruhnya, kemudian menunggu lagi hingga kukunya tumbuh baru. Dengan kukunya yang baru, ia berusaha mencabuti bulunya satu demi satu. Hingga 5 bulan kemudian, tumbuh bulu yang baru. Setelah itu, ia bisa kembali terbang dengan kuat.

Hidup manusia ini persis seperti Elang Putih ini,

Seseorang bisa jadi terlihat begitu kuat, tapi kita tak pernah tau saat ia sendirian. Ia bisa jadi begitu lemah.

Barangkali ia membuat sarang di ketinggian bukan untuk menunjukkan kekuasaan,

Ia hanya tak ingin orang lain melihat kepayahan, dan penderitaannya,

Lalu apakah kita akan menunggu mati begitu saja?

Tidakkah kau mau mencoba jalan yang menyakitkan ini?

Jika berhasil, kita akan tersenyum di atas langit

.

Setengah sebelas kurang beberapa menit

Kalasan, 29/11/2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s