Rindu-Tere Liye

Rindu. Awalnya saya berpikir novel ini akan menceritakan sebuah kisah cinta di jaman ini. Namun, ternyata saya salah.

Di halaman pertama buku ini, pembaca disuguhi tentang sejarah namun dibalut manis oleh Bang Tere. Ini tentang sebuah takdir. Tentang melawan kemunafikan yang tak terlihat oleh orang lain.

Di halaman awal Anda akan menyangka kisah ini mirip dengan Titanic, kisah cinta seorang pemuda yang bertemu perempuannya di Kapal. Tapi ternyata saya salah. (Memang saya bayak salahnya)

Ini adalah kisah sebuah perjalanan dengan Kapal Belanda. Berlayar dari Indonesia dengan membawa orang Indonesia yang naik haji ke Makkah, lalu berlanjut berlayar ke Belanda.

Tokoh-­tokoh unik yang Bang Tere ciptakan membuat saya berdecak kagum. Tentang Seorang Ulama yang memiliki visi jauh ke depan-Gurutta. Tentang sebuah keluarga yang harmonis-keluarga Daeng Andipati, pemuda yang sedang jatuh cinta-Ruben, pun ada tokoh super misterius Si Ambo serta tokoh-tokoh lain yang luar biasa.

WP_20141025_15_31_27_Pro

Pertama niat membeli buku ini, saya pikir hanya berapa halaman saja. Namun buku ini sangat tebal-lima ratus empat puluh empat halaman. Bang Tere menjelaskan setiap detail perjalanan di kapal ini. Lengkap dengan gambaran tempat­tempat dan Bahasa Belanda­nya. Hingga seolah-­olah saya sedang menonton buku ini. Banyak pengetahuan baru saya dapat dari buku ini. Sejarah, Bahasa Belanda hingga dunia perkapalan yang saya tidak pahami sebelumnya.

Alur  yang menarik, kata-­kata yang mudah dipahami membuat tak sadar sudah sampai pada halaman 103. Namun saya tidak segera melanjutkan membaca buku ini karena mengingat sedang menempuh ujian tengah semester. Dengan berat hati menutup buku ini dan melanjutkan setelah selesai Ujian.

Buku ini terlalu biasa untuk disebut sebuah novel. Gabungan pengetahuan, sejarah, agama dan tentang rasa. Segera setelah selesai ujian saya menyelesaikan buku ini. Tambah lagi, setelah teman-­teman tahu saya memiliki buku ini, kini ada 6 orang yang sudah mengantre. Mau ikut mengante juga?

Lanjut lagi, Sebelum membeli buku, tentu kita akan melihat siapa Penulis­nya? Seperti kita tahu, ketika memutuskan untuk membeli buku, kita akan lebih yakin bahwa penulis A, B, C pasti bagus. Tapi kita lupa sebaik­baik penulis ­adalah Allah ­Tuhan  seluruh alam. Jadi takdir sepahit apapun, luka dan sakit sebesar apapun kita seharusnya lebih yakin bahwa ini akan berakhir indah-bahkan jadi yang terindah.

Kita seringkali berpandangan bahwa hidup seperti Andi ataupun tokoh lainnya pasti sangat bahagia. Belajar dari novel rindu. Bahwa setiap orang punya masalahnya masing-masing. Jika ia terlihat bahagia, karena memang kita tidak mampu melihat setiap masalahnya.

Untuk siapapun yang memiliki cita-cita, keinginan ataupun mimpi,saya kutipkan dari novel ini

“Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apa pun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapinya”

Satu lagi yang begitu menyentuh hati saya-tentang pasangan paling romantis di kapal, begitu bekerja keras untuk membuktikan cinta.

“Pendengaranku memang sudah berkurang, Nak. Mataku sudah tidak awas lagi. Tapi kami akan naik haji bersama. Menatap Ka’bah bersama. Itu akan kami lakukan sebelum maut menjemput. Bukti cinta kami yang besar.”

Jika penasaran siapakah tokoh yang paling romantis tersebut, silakan baca selengkapnya sendiri dan temukan kisah dari setiap tokoh yang akan membuat kita berpikir ulang bahwa semua itu tergantung sudut pandang diri kita sendiri-hingga kita bisa menerima setiap takdir dengan senyuman-meski itu ialah sebuah kehilangan.

Jumat, 24 Oktober 2014

Iklan

4 thoughts on “Rindu-Tere Liye

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s