Nikmatnya tinggal di Indonesia

Selepas subuh hari ini, tiba-tiba teringat kata-kata pembicara dalam seminar.

Mbak Sandy, Mas Adit dan Mas Bahctiar. Mas Adit dan Bahctiar selamat atas pernikahannya,
(mereka belum lama ini menikah). Maaf juga kalo saya salah penulisan nama(kayak undangan aja). Kenapa mereka bisa barengan ya nikahnya?
NB: Mas Adit bukan nikah sama Mas Bahctiar lo yaa.. mereka punya istri sendiri-sendiri yang tidak perlu saya sebutkan disini.
Nampaknya mereka ingin menyambut ramadhan bersama seorang teman. Kok jadi ngelantur kesini ya.
Oke lanjut..

Hari itu bercerita tentang Italia, Germany, dan french.

germany
“kalian harus coba jadi orang minoritas, supaya kalian lebih bersyukur” Mas Bahctiar.

Iya sih, di Indonesia kita mau pake jilbab segede apa juga nggak masalah.
Di Eropa tidak, terutama di ruang publik.
“Seorang teman perempuan saya diteriaki teroris,
Tapi alhamdulillah, kalau di insitusi pendidikan boleh”
.
islamophobia disana level 15 maicih (maicih kan cuma ampe level 10), bahkan mungkin lebih.

Mbak Sandy “Di Italia saya dikira dan dipanggil suster/ biarawati”
Padahal saya sudah coba jelaskan, bahwa saya muslim.

Pernah nonton Film 99 Cahaya di Langit Eropa?

Itu film sangat tidak mungkin adzan di menara itu,(menurut mas-nya lo ya)
Adzan, simbol agama tidak boleh di beberapa negara Eropa.
Tapi kan karna film ya, jadi sudah izin. Karna kalo tidak, itu bisa ditangkap polisi.

Sholatnya kami ya di pojok-pojok lorong, atau di atas gedung.
Trus kalo wudu di wastafel.

Bahkan kami tidak libur saat perayaan hari raya umat islam.
Sholat Ied di KBRI dan melanjutkan aktivitas.

Indahnya disana adalah ketika sholat jumat, bertemu lebih banyak teman-teman seiman.
di KBRI, atau tempat yang sedikit lebih luas,di situ baru bisa dengar adzan.
Yang hanya terdengar di ruangan itu saja.

Sementara kami di Indonesia, khususnya Yogyakarta, tiap hari bisa denger 5 kali adzan. Bahkan lebih, karena masjid desa sebelah adzan setelah atau sebelumnya.
Boleh pakai jilbab dengan bebas, dan banyak masjid.
Dari jauh kita sudah tau itu masjid, disana hanya ruang-ruang biasa.
Jangan dikira masjid itu ya seperti di Indonesia.

Tidak akan kamu melihat banyak orang ke masjid, nenek-kakek ke masjid, orang tua, anak-anak seperti di Yogya.
Karena kami minoritas disana.
Apalagi ramadhan gini, di Yogya kan biasanya ada yang keliling bangunin sahur,
disana? JANGAN HARAP DEH !

Yah saya doakan temen-temen muslim di berbagai belahan dunia, terus di beri kekuatan untuk beriman dan taat padaNya bagaimanapun keadannya.

Jadiii… tinggal di Indonesiiiiaaaa ituuu nikkkkkmaaaatt banggeeett…
ini aja belum cerita takbiran dan silaturahmi lebaran loo yaaa
Tapi bagi yang punya cita-cita lanjut ke luar negri, kejar terus yaaa
Siapkan juga kekuatan untuk menahan rindu akan keindahan Indonesia beserta orang-orangnya.

Salam dari kota Yogya
Insyaallah akan ada dongeng ramadhan lain. tunggu yaa
Kenapa saya menyebutnya dongeng? karena ini cerita orang lain, maka saya sebut dongeng.

Iklan

6 thoughts on “Nikmatnya tinggal di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s