Fenomena Penebusan Dosa seorang Ibu

Hari Rabu pukul 10 Februari 2014. Kuliah Manajemen Pemasaran dengan Bu Sari.

Entahlah apa mata kuliah ini masih diakui oleh departemen akuntansi atau tidak, yang jelas saya benar-bener ingin mempelajari marketing secara lebih dalam.

Data demografi di Indonesia menyatakan bahwa peningkatan perempuan yang kerja di luar rumah meningkat.
Lalu apa pengaruhnya?
kami menjawab bahwa peningkatan perempuan akan menjadi target pasar seperti kosmetik minimalis, baju kantor, dan makanan cepat saji.

Tapi ternyata bukan hanya sebatas itu.

Bu Sari bertanya lagi, Pekerjaan perempuan itu apa sih?
Mengurusi anak-anak.
Mereka kerja untuk siapa?
Untuk anak-anaknya.

Lalu fenomena apa yang terjadi di hari libur/weekend?

Mereka mengajak anak-anaknya pergi dan membeli apapun yang mereka mau.

Kalau menurut marketer, hal ini merupakan fenomena dimana pengambil keputusan pembelian beralih dari orang tua ke anak-anaknya.

Marketer harus menyikapi hal ini disesuaikan dengan cara promosi yang tepat sasaran.

Namun, di balik hal itu..
fenomena yang terjadi adalah penebusan dosa. Hal yang jelas adalah Ibu meninggalkan anaknya 5-6 hari dalam seminggu. Saat yang seharusnya digunakan untuk membersamai anak-anaknya.
Mereka sadar hal itu, maka saat libur/weekend mereka melakukan ‘penebusan dosa’. Dimana mereka memberikan keputusan pembelian pada anaknya, apa yang mereka mau, mereka inginkan, akan dituruti.
Bahkan fenomena yang paling parah adalah, mereka tidak tahu bahwa barang di supermarket itu ada harganya.
Saat diajak ke supermarket, mereka mengambil semua barang yang mereka inginkan tanpa mempeduliakan cost dan benefit, harga, dan perjuangan sulitnya mencari uang.

Fenomena ini boleh kalian percaya atu tidak, silahkan.
Yang membuat saya miris adalah, kita tahu bahwa pendidikan dengan metode seperti ini sangat tidak mendidik dan tidak baik. Ke depan anak akan tumbuh menjadi orang yang tidak mengerti bahwa hidup ini adalah perjuangan.
Bahwa dalam kehidupan untuk mendapat sesuatu harus bekerja keras.

Akan lebih baik, anak hidup dalam lingkungan penuh kasih sayang. Maka ketika besar nanti, ia juga akan belajar berkasih sayang, dan menghargai hal sekecil apapun yang ia miliki. Dia tidak hanya berusaha mendapatkan namun belajar merawat yang ia miliki.

selamat memaknai

Iklan

2 thoughts on “Fenomena Penebusan Dosa seorang Ibu

  1. Saya sependapat, tidak seharusnya bentuk “penebusan dosa” orangtuanya itu justru melemahkan mental anaknya, menghilangkan daya kepekaan dan daya kritis. Ini bahaya sekali.
    Anak harus diberikan challenge dalam masa-masa pertumbuhannya.

    Di sisi lain, industrialis yang meraup keuntungan dengan memanfaatkan psikologi “penebusan dosa” orangtua, sejatinya adalah industrialis yang jahat, satu paket sengan sistem pembangun hedonisme.

    Suka

  2. Terima kasih sudah mampir di blog saya.
    Ini adalah bagian riset yang di lakukan marketer untuk menentukan taktik promosi.
    Masalah orang tua yang menjadikan anaknya ‘raja kecil’ ini bukan karena marketer atau perusahaan.
    Fenomena ini hanya terjadi di Asia, karena budaya memberi(hadiah) pada anak tanpa melakukan apapun.
    Sementara di negara-negara Barat, hal ini tidak terjadi. Karena mereka dilatih dan di biasakan hidup mandiri.
    Bahwa ‘tidak ada makan siang gratis’, mereka harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu.
    Sehingga budaya di Barat maayarakat menjadi orang yang rajin, mandiri dan pekerja keras.

    Saya yakin ada cara yang lain untuk mendidik anak meskipun orang tua sibuk.
    Tapi memberikan apapun yang ia inginkan, bukanlah cara yang baik.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s